Iman dari segi bahasa menurut banyak kalangan adalah membenarkan. Aku membenarkan dan aku beriman adalah satu makna. Telah kami jelaskan dalam tafsir bahwa pendapat ini tidak shahih. Akan tetapi yang shahih, iman menurut bahasa adalah menetapkan sesuatu karena membenarkannya. Buktinya adalah, bahwa aku beriman kepada ini, atau aku menetapkan ini atau aku membenarkan fulan, dan anda tidak berkata aku beriman kepada fulan. Jadi iman mengandung arti yang lebih dari sekedar membenarkan. Ia adalah pengakuan yang berkonsekuensi kepada sikap menerima berita dan tunduk kepada hukum. Inilah iman. Kalau sekedar kamu beriman bahwa Alloh itu ada, maka ini bukanlah iman, sampai keimanan tersebut berkonsekuensi kepada sikap menerima berita dan tunduk kepada hukum, jika tidak maka ia bukan iman.
Sifat malu merupakan hal yang secara turun-temurun menjadi syari’at yang disampaikan oleh para Nabi yang terdahulu sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perhatikanlah sabda Rosul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Mas’ud berikut ini: “Sesungguhnya di antara nasehat yang didapatkan orang-orang dari sabda nabi-nabi terdahulu: “Apabila tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sekehendakmu.” (HR. Bukhori: 3483) Kalau begitu, betapa malu itu sangat urgen dalam kehidupan seseorang, atau bahkan ia merupakan hal yang tidak boleh hilang dari kehidupan seseorang. Sebab hal yang secara turun-temurun diajarkan apalagi oleh para nabi tentunya sangat penting. Malu adalah hakikat kehidupan, itulah sebabnya malu itu sedemikian mulia dan diprioritaskan dalam ajaran para nabi.
Sebagaimana kamu tahu, ilmu pengetahuan itu ada yang sifatnya wajib ‘ain dan wajib kifayah. Wajib ‘ain artinya ilmu yang harus kamu ketahui dan tidak boleh ada udzur. Sedangkan wajib kifayah artinya apabila diantara kamu sudah ada yang tahu maka gugurlah kewajiban yang ada pada kamu. Ilmu-ilmu keduniaan yang mampu memberikan kemaslahatan di dalam kehidupan manusia adalah salah satu contoh bentuk ilmu atau pengetahuan yang sifatnya wajib kifayah. Lalu, apa aja sih contoh ilmu yang kamu mesti tahu dan pahami, atau kamu harus bisa jawab jika ada yang nanya ke kamu?
Beliau adalah Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muthallib bin Hasyim. Hasyim adalah termasuk suku Quraisy, suku Quraisy termasuk bangsa Arab, sedang bangsa Arab adalah termasuk keturunan nabi Isma’il, putra Nabi Ibrahim Al-Khalil. Semoga Alloh melimpahkan kepadanya dan kepada Nabi kita sebaik-baik shalawat dan salam. Beliau berumur 63 tahun; diantaranya 40 tahun sebelum beliau menjadi nabi dan 23 tahun sebagai nabi serta rasul. Beliau diangkat sebagai nabi dengan “Iqra’” [1] dan diangkat sebagai rasul dengan surat “Al-Mudatstsir”. Tempat asal beliau adalah Makkah.
Islam, ialah berserah diri kepada Alloh dengan tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan penuh kepatuhan akan segala perintah-Nya serta menyelamatkan diri dari perbuatan syirik dan orang-orang yang berbuat syirik. Dan agama Islam, dalam pengertian tersebut, mempunyai tiga tingkatan, yaitu : islam, iman, ihsan; masing-masing tingkatan mempunyai rukun-rukunnya. I. Tingkatan Islam Adapun tingkatan Islam, rukunnya ada lima :
Apabila anda ditanya : Siapakah Tuhanmu ? Maka katakanlah : Tuhanku adalah Alloh, yang telah memelihara diriku dan memelihara semesta alam ini dengan segala nikmat yang dikaruniakan-Nya. Dan Dia-lah sesembahanku, tiada bagiku sesembahan yang haq selain Dia. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman : “Segala puji hanya milik Alloh Tuhan Pemelihara semesta alam.” {Surat Al-Faatihah (1) : 1} Semua yang ada selain Alloh disebut Alam, dan aku adalah salah satu dari semesta alam ini. Selanjutnya, jika anda ditanya : Melalui apa anda mengenal Tuhan ? Maka hendaklah anda jawab : Melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah : malam, siang, matahari dan bulan. Sedang diantara ciptaan-Nya ialah : tujuh langit dan tujuh bumi beserta segala makhluk yang ada di langit dan di bumi serta yang ada diantara keduanya.
بسم الله الرحمن الرحيم Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Ketahuilah, rahimakalloh, bahwa wajib bagi kita untuk mempelajari empat masalah, yaitu:
Ikhlas kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala artinya adalah seseorang dalam ibadahnya memaksudkan taqarub kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan menggapai kampung kemuliaannya. Apabila seseorang hamba menginginkan sesuatu yang lain dengan ibadahnya, maka hal itu ada perinciannya sesuai dengan pembagian sebagai berikut:
Pertanyaan: Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya tentang hukum mencela atau mencaci-maki ad-Dahr (
Pertanyaan: Bagaimana memberi jawaban kepada para penyembah kuburan yang beragumentasi dengan dikuburkannya Nabi shallallohu ’alaihi wasallam di dalam masjid Nabawi?
|
![]() |
||||
| menegakkan tauhid mengikuti sunnah | ||||
Kategori artikel
- Adab (9)
- Akhlak (5)
- Aqidah (12)
- Bedah Buku (1)
- Buletin (6)
- Dauroh (6)
- DOWNLOAD: Ceramah (1)
- DOWNLOAD: Mading (5)
- DOWNLOAD: Program (2)
- DOWNLOAD: Wallpaper (3)
- Fatwa (6)
- Fiqh (10)
- Hadits (2)
- Ibadah (4)
- Info (11)
- Kajian Rutin (3)
- Kegiatan Sosial (1)
- Keluarga (10)
- Kesehatan (4)
- Kisah Kamu (3)
- Koreksi (7)
- Manhaj (18)
- Muamalah (12)
- Nasehat (23)
- Remaja (7)
- Siroh (4)
- Soal-Jawab (34)
- Tabligh Akbar (7)



