• Kategori artikel

  • Mar
    29
    Terdaftar ke dalam kategori: (Aqidah) pada 29-03-2008

    Iman dari segi bahasa menurut banyak kalangan adalah membenarkan. Aku membenarkan dan aku beriman adalah satu makna. Telah kami jelaskan dalam tafsir bahwa pendapat ini tidak shahih. Akan tetapi yang shahih, iman menurut bahasa adalah menetapkan sesuatu karena membenarkannya. Buktinya adalah, bahwa aku beriman kepada ini, atau aku menetapkan ini atau aku membenarkan fulan, dan anda tidak berkata aku beriman kepada fulan.

    Jadi iman mengandung arti yang lebih dari sekedar membenarkan. Ia adalah pengakuan yang berkonsekuensi kepada sikap menerima berita dan tunduk kepada hukum. Inilah iman. Kalau sekedar kamu beriman bahwa Alloh itu ada, maka ini bukanlah iman, sampai keimanan tersebut berkonsekuensi kepada sikap menerima berita dan tunduk kepada hukum, jika tidak maka ia bukan iman.

    Beriman kepada Alloh mengandung empat perkara:

    1. Beriman kepada adanya Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
    2. beriman kepada rububiyahNya, yakni Dialah Satu-satunya yang menyandang hak rububiyah.
    3. beriman kepada uluhiyahNya, yakni Dialah satu-satunya yang berhak diibadahi.
    4. beriman kepada Asma’ dan Sifat-Nya.

    Iman tidak akan terwujud kecuali dengan semua itu.

    Barang siapa yang tidak beriman kepada adanya Alloh, maka dia bukanlah seorang mukmin. Siapa yang beriman kapada adanya Alloh, tetapi tidak beriman bahwa satu-satunya yang menyandang hak rububiyah adalah Alloh, maka dia bukanlah seorang mukmin. Barangsiapa beriman bahwa satu-satunya pemilik rububiyah adalah Alloh, akan tetapi tidak beriman bahwa satu-satunya yang berhak diibadahi adalah Alloh, maka dia bukan seorang mukmin. Barangsiapa yang beriman bahwa satu-satunya pemilik rububiyah dan uluhiyah adalah Alloh, akan tetapi dia tidak beriman kepada Asma’ dan Sifat Alloh, maka dia bukan seorang mukmin, meskipun yang terakhir ini bisa menghilangkan iman secara total dan bisa pula hanya menghilangkan kesempurnaan iman.

    Jika ada yang bertanya, apa dalil yang menunjukkan adanya Alloh?

    Dalil atas adanya wujud Alloh adalah akal, indra, dan syara’

    Tiga hal ini semua menunjukkan adanya Alloh. Kalau anda mau, maka bisa menambahkan fitrah, jadi bukti atas adanya Alloh ada empat: akal, indra, fitrah dan syara’. Kami menybutkan syara’ dibagian akhir, bukan ia tidak berhak dikedepankan, akan tetapi karena kita berbicara kepada orang yang tidak beriman kepada syara’.

    Adapun dalil akal, maka kita katakan, apakah keberadaan semua yang ada ini dengan sendirinya atau ada secara tiba-tiba?

    Kalau dijawab dengan sendirinya, maka itu mustahil secara akal selama ia tidak ada, mana mungkin ia ada sedangkan ia tidak ada? Yang tidak ada bukanlah sesuatu sehingga ia diadakan. Jadi dia mustahil mengadakan dirinya sendiri. Kalau dijawab ada secara tiba-tiba, maka itu mustahil. Hai orang yang mengingkari, apakah pesawat terbang, rudal, mobil dan perlengkapan dengan segala macam bentuknya, apakah ini ada secara tiba-tiba? Dia pasti menjawab tidak mungkin. Maka sama halnya dengan burung-burung, gunung-gunung, matahari, rembulan, bintang-bintang, pohon, batu, pasir, laut dan sebagainya. Tidak mungkin dia ada secara tiba-tiba.

    Dikisahkan ada sekelompok dari aliran (sekte) Samaniyah (yang atheis) yang berasal dari India, dating kepada imam Abu Hanifah Rohimahullah, mereka mendebat Abu Hanifah dalam penetapan adanya pencipta. Abu Hanifah sendiri termasuk di antara ulama yang sangat cerdas. Dia menjanjikan agar mereka datang satu atau dua hari mendatang. Pada hari yang disepakati mereka datang. Mereka bertanya kepada Abu Hanifah, ”Apa jawabanmu?” Abu Hanifah menjawab, ”Aku sedang memikirkan sebuah perahu yang sarat dengan muatan dan makanan. Ia membelah air dan merapat di pelabuhan. Ia pulang pergi dengan muatan yang sarat akan tetapi tidak ada nahkodanya dan tidak ada ABKnya.”

    Meraka berkata, ”Ini yang kamu pikirkan?” Abu Hanifah menjawab, “Benar.” Mereka berkata, ”Kalau begitu kamu tidak berakal. Apakah masuk akal ada perahu yang dating pulang pergi tanpa nahkoda? Ini tidak masuk akal.” Abu Hanifah berkata, ”bagaimana kalian tidak mengerti ini sedang kalian mengerti bahwa langit, matahari, rembulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pohon, binatang dan semua manusia tanpa pencipta?” Mereka pun tahu bahwa Abu Hanifah berbicara kepada mereka dengan cara berpikir mereka sendiri. Mereka pun tak mampu menjawabnya.

    Seorang arab pedalaman ditanya, ”Dengan apa kamu mengetahui Tuhanmu?” Dia menjawab, ”Jejak kaki adalah bukti adanya orang yang pernah berjalan. Kotoran unta adalah bukti adanya unta. Maka langit dengan bintang-bintangnya, bumi dengan jalan-jalannya dan laut dengan ombaknya, apakah itu tidak menunjukkan adanya Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat?”

    Oleh karena itu Alloh berfirman,

    “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (At Thur: 35)

    Jadi secara pasti akal membuktikan adanya Alloh.

    Adapun dalil indra yang membuktikan adanya Alloh adalah terkabulnya doa seseorang dimana dia berkata, “Ya Rabbi,” dia memohon sesuatu kemudian dia permohonannya dikabulkan. Ini adalah bukti riil, dia sendiri tidak berdoa kecuali kepada Alloh, lalu Alloh mengabulkan doanya dan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Kita pun telah mendengar orang-orang yang telah mendahului kita dan orang-orang di zaman ini, bahwa Alloh mengabulkan doanya.

    Ketika Rasululloh sedang berkhutbah, masuklah seorang arab badui, dia berkata, “Harta benda telah hancur, jalan-jalan pun terputus. Berdoalah kepada Alloh agar menurunkan hujan kepada kami.” Anas berkata, “Demi Alloh, dilangit tidak ada awan bahkan secuil pun tidak ada, antara kami dengan Sala’-gunung madinah yang darinya awan muncul- tidak ada rumah atau tempat tinggal… sejurus setelah doa Rasululloh, muncullah awan tebal seperti perisai. Ia naik kelangit, mengembang lalu terlihat kilat dan terdengar guruh maka hujan pun turun. Rasululloh belumlah turun (dari mimbar), kecuali menetes dari jenggot beliau.” (Diriwayatkan oleh al Bukhari, Kitab al Istisqo’, Bab al Istisqo fi Khutbah al Jum’at. Muslim, Kitab Shalat al Istisqo’, Bab ad Du’a fi al Istisqo)

    Ini adalah perkara riil yang menunjukkan secara nyata adanya pencipta dan itu adalah dalil indrawi.

    Hal seperti ini di dalam al Qur’an banyak didapatkan, seperti

    “Dan (ingatla Kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Rabbnya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.’ Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu.”

    (Al Anbiya: 83-84). Dan ayat-ayat lain yang banyak.

    Ada pun dalil fitrah, maka mayoritas manusia di mana fitrah mereka tidak menyimpang, beriman kepada adanya Alloh, bahkan ternak yang bisu pun beriman kapada wujud Alloh. Kisah semut dengan Nabi Sulaiman ‘Alaisalam menunjukkan hal itu. Suatu kali Sulaiman keluar untuk memohon hujan. Dia melihat seekor semut telentang dengan mengangkat kakinya kelangit. Semut itu berkata, “Ya Alloh, aku adalah salah satu makhluk-Mu, maka janganlah Engkau menahan airMu dari kami.” Sulaiman berkata, “Kita pulang, karena kalian akan diturunkan air dengan doa selain kalian.”

    Fitrah (manusia) telah difitrahkan untuk mengenal dan mentauhidkan Alloh. Alloh telah mengisyaratkan hal ini dalam firman-Nya,

    “Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Alloh),’ atau agar kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Alloh sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka’.” (Al A’raaf: 172-173)

    Ayat ini menunjukkan bahwa fitrah manusia difitrahkan di atas kesaksian terhadap adanya Alloh dan rububiyah-Nya. Sama saja, apakah kita katakana bahwa Alloh mengeluarkan mereka dari punggung Adam dan meminta kesaksian mereka atau kita katakana bahwa itu adalah pengakuan yang Alloh susun di dalam fitrahNya. Yang jelas, ayat ini menunjukkan bahwa manusia mengenal tuhannya dengan fitrahnya.

    Adapun dalial syara’ maka syariat Alloh yang dibawa para rasul yang mengandung apa yang baik bagi manusia mununjukkan bahwa yang menurunkannya adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Bijaksana, lebih-lebih al Qur’an yang mulia ini, di mana tak seorang pun dari kalangan jin dan manusia yang mampu menghadirkan kitab semisalnya. Ini lah empat dalil yang menunjukkan wujud Alloh.

    Sumber: Syarah Aqidah Wasithiyah (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Pustaka Sahifa, hal 61-64



    Ajukan komentar baru
    Nama: 
    Email: 
    URL: 
    Komentar: