• Kategori artikel

  • Jan
    03
    Terdaftar ke dalam kategori: (Manhaj) pada 03-01-2008

    Sesungguhnya racun berbahaya yang menghancurkan kekuatan kaum muslimin, melumpuhkan gerakan mereka dan merenggut barokahnya, bukanlah pedang-pedang orang kafir yang berkumpul mengadakan tipu daya terhadap Islam, pemeluknya dan agamanya, akan tetapi ia adalah bakteri penyakit yang keji yang merebak di dalam tubuh Islam yang besar dalam waktu yang sangat lambat akan tetapi terus menerus dan efektif (berdaya guna).

    Penyakit tersebut adalah ad dakhan (kabut) sesui dengan hadits dari Hudzaifah bin Yaman Radhiallohu ‘anhu.

    “Dari Hudzaifah bin Al Yaman Radhiallohu ‘anhu beliau berkata : orang-orang bertanya kepada Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena takut jangan-jangan menimpaku, Maka aku bertanya: wahai Rasululloh kami dahulu berada di zaman jahiliyah dan keburukan, lalu Alloh memberi kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan? Beliau menjawab: ya, aku bertanya : dan apakah setelah keburukan itu ada kebaikan? Beliau menjawab :ya, dan ada padanya kabut (dakhan)! Aku bertanya lagi: apa kabut (dakhan)nya tersebut? Beliau menjawab: suatu kaum yang mengikuti teladan selain sunnahku, dan mengambil petunjuk selain petunjukku, kamu menganggap baik mereka dan kamupun mengingkarinya, aku bertanya lagi: apakah setelah kebaikan itu ada keburukan lagi? Beliau menjawab: ya, para dai yang mengajak kepintu-pintu neraka (jahannam)!, barang siapa yang menerima ajakan mereka , niscaya mereka menjerumuskan ke dalam neraka. Aku bertanya lagi: wahai Rasululloh berilah tahu kami sifat-sifat mereka? Beliau menjawab: mereka dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita, aku bertanya lagi: wahai Rasululloh apa yang engkau perintahkan kepada ku jika aku menemuinya?, beliau menjawab: berpegang teguhlah pada jamaah kaum muslimin dan imamnya, aku bertanya lagi: bagaimana jika tidak ada jamaah maupun imam? Beliau menjawab: hindarilah semua kelompok-kelompok itu, walau pun dengan menggigit pokok pohon hingga kematian menjemputmu dalam keadaan seperti itu”[1]


    Beraneka ragam ibarat para pensyarah hadits ini seputar pengertian ad Dakhan, akan tetapi bertemu pada satu hasil yang sama.

    Berkata Al Hafidz ibnu Hajar Rahimahulloh dalam fathul bari (13/36): “Dan (makna)nya adalah hiqd (kedengkian), dan ada yang mengatakan: Ad Daghal (penghianatan dan makar), dan ada yang mengatakan: kerusakan hati, dan ketiga makna ini hampir sama mengisyaratkan kebaikan yang datang setelah keburukan tersebut tidak murni bahkan telah keruh. Dan ada yang mengatakan yang dimaksud dengan ad dakhan adalah kabut, dan itu mengisaratkan kepada keruhnya keadaan. Dan masih banyak lagi yang maknanya serupa.

    Sesungguhnya kekeruhan (ad dakhan) ini adalah penyimpangan yang terjadi pada manhaj kenabian yang benar yang telah mengantar kepada masa kebaikan yang murni, lalu kabut kekeruhan (ad dakhan) ini menyebabkan terjadinya pencemaran syariat yang telah terang benderang ini (Islam) yang malamnya seperti siangnya, bukankah Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda dalam menafsirkan makna ad dakhan sebagaimana telah ada dalam hadits Hudzaifah Radhiallohu ‘anhu. Ketika dia menanyakan beliau:

    “Suatu kaum yang mengikuti contoh teladan selain sunnahku, dan mengambil petunjuk selain petunjukku”.

    Ini merupakan akar penyakit dan sumber bencana, yaitu penyimpangan dari As Sunnah dalam manhaj dan pemalingan dari contoh teladan kenabian dalam prilaku dan amal.

    Bedasarkan hal ini jelas bahwa ad dakhan yang mengeruhkan kebaikan, mengotori kemurnian serta merubah keindahan adalah kebid’ahan yang telah bermunculan dari sekte Mu’tazillah, Shufiyah, Jahmiyah, Khawarij, Asyariyah, Murjiah dan Rafidhah sejak abad-abad timbulnya fitnah, lalu menyebarkan tahrif (penyimpangan), ajaran-ajaran sesat dan ta’wil dalam Islam, sehingga tidak ada tersisa dari Al Qur’an kecuali tulisan hurufnya dan dari Islam kecuali namanya serta dari peribadatan kecuali bentuknya (tampak luarnya).

    Dari sini jelaslah kebid’ahan itu berbahaya karena dia merusak hati-hati (jiwa) dan jasmani, sedangkan musuh-musuh Islam hanya merusak jasmani saja. Oleh karena itu telah bersepakat ucapan para As Salaf Ash Shalih tentang kewajiban memerangi Ahlul bid’ah dan menghijrahinya (memboikotnya).

    Agar umat Islam tidak sadar dari pengaruh suntikan beracun berisi bakteri penyakit mematikanyang disuntukan kedalam tubuhnya. Serta dalam rangka lebih menyesatkan, menggelapkannya serta menutupi kenyataan yang sebenarnya dari pandangan mereka. Maka para tokoh pemimpin orang-orang kafir membangun produk-produk mereka dalam tubuh kaum muslimin[2]. Hal ini dilakukan untuk mengokohkan racun-racun dari dalam, sehingga tidak tampak efek negative dari penyakit berbahaya ini, kecuali setelah jangka waktu yang sangat panjang pada saat itu sudah sulit bagi para dokter (dalam mengobatinya –pen) dan membuat bingung para cendikiawan.

    Produk-produk yang selalu dibesar-besarkan oleh musuh Islam di telinga umat Islam dan membawa misi apa yang telah disuntikkan kepadanya adalah para pemimpin yang mengajak kepada api neraka. Mereka berasal dari bangsa kita, berbicara dengan bahasa kita dan mengaku punya kepedulian terhadap umat dan beramal untuk membawa kemajuan kita.

    Oleh karena itu, sesungguhmya yang menananm bibit penyakit tersebut kedalam tubuh umat Islam adalah anak-anak Islam sendiri.akan tetapi nabi yang penuh rahmat dan pemberi petunjuk Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak memberikan suatu kesamaranpun dalam masalah ini. Beliau menjelaskan wahyu dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan bukan reka-reka darinya. Maka dalm hadits Hudzaifah Radhiallohu ‘anhu terdapat pensifatan kelompok orang –orang hasil didikan dan pembinaan langsung para tokoh pemimpin kafir. Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    ….Ya, para da’i yang mengajak ke pinti-pintu neraka (jahannam), barang siapa yang menerima ajakan mereka, niscaya mereka jerumuskan kedalam neraka. Aku bertanya lagi: wahai Rasululloh berilah tahu kami sifat-sifat mereka? Beliau menjawab: mereka dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita.

    Sifat pertama yang menjadi ciri-ciri mereka yaitu mereka dari bangsa Arab baik secara nasab atau bahasa.

    Sifat kedua yang menjadi ciri-ciri mereka yaitu mereka menampakkan kepedulian atas umat, kemaslahatan, kepemimpinan, kemerdekaan dan kemajuan…. Mereka menyenangkan umat dengan lisan-lisan mereka, namun hati-hati mereka tidak menginginkan kecuali malaksanakan apa yang teklah mereka pelajari dan dapatkan dari pembinaan majikan-majikan mereka dari kalangan orang-orang salib dan Yahudi. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka”. (QS Al Baqoroh: 120)

    Inilah yang telah dirancang para majikan dari bangsa eropa dan Yahudi dan dilaksanakan oleh para budak dari orang rendahan umat ini yang menjadi kuat di tanah air kita karena mereka telah tinggal menetap dan memakan kekayaan akan tetapi telah terdidik oleh pembinaan kelompok setan dan tentara Iblis yang telah mendidik mereka diatas dokrin-dokrin salibisme yang membunuh. Sesungguhnya perlahan-lahan akan tetapi pasti berdaya guna.

    Dan Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Dan bila mereka berjumpa denganm orang-orang beriman, mereka mengatakan:”kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan:”sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.”(QS. Al Baqoroh: 14)

    Demikianlah mereka menakut-nakuti bangsa dan umat dan ditaati serta diserahkan kepada mereka tali kepemimpinan, karena umat ini telah menyimpang dari manhaj ilahi. Merekapun menyeret umat Islam kedalam api neraka dan menginginkan agar umat menjadi penghuninya.

    Mereka tidak pernah berhenti berdakwah kepada kesesatan dan kemungkaran. Mereka mengadakan pertemuan-pertemuan, partai-partai, muktamar-muktamar dan konferensi-konferensi, oleh karena itu mereka disifati dengan nama du’at (para penyeru / da’i-da’i)

    Dan dengan demikian pembuat dakhan adalah pendahulu para penyeru kesesatan dan dengan ini juga jelaslah bahwa mata rantai persekongkolan (konspirasi) terhadap Islam, pemeluk dan negaranya memiliki akar yang kuat dalam sejarah Islam.

    Sesunguhnya lahiriah masa-masa ini baik, akan tetapi dibaliknya tersimpan kerusakan. Bukankah Rasululloh telah mengatakan dalam hadits Hudzaifah Radhiallohu ‘anhu yang diriwayatka oleh Muslim:

    “Dan ada dikalangan mereka orang-orang yang berhati syaitan dengan jasad manusia”.

    Ini terkadang menipu kebanyakan manusia yang hanya memandanh kapada lahiriah sesuatu. Namun pandangan terhadap hakikat sesuatu itu tertutup. Akibatnya, mereka tidak memperhatikan sama sekali perbaikan kerusakan-kerusakan dari awal-awalnya sehingga tidak membesar dan melebar sobekan pada kain tambalan.

    Sesungguhnya ad dakhan berkembang mematikan kebaikan sehingga mengalahkan lalu muncullah masa-masa yang penuh kejelekan dan permulaan munculnya para du’at kesesatan dan kelompok-kelompok sesat.

    Sesungguhnya para pembuat fitnah sangat semangat dalam beramal sedangkan orang-orang yang berada dalam kebenaran lengah dan terlelap. Buktinya adalah, dakhan ini membesar sampai mengalahkan kebenaran, menyerang kebenaran dan ahlinya, menyerahkan urusan kepada selain ahlinya serta meletakkan kebenaran bukan pada tempatnya.

    Dari Abu Hurairoh Radhiallohu ‘anhu beliau berkata, telah berkata Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wasallam:

    “Akan datang masa-masa yang menipu dimana para pendusta dibenarkan dan didustakan orang-orang yang jujur, para penghianat di beri amanat dan orang yang amanah dianggap penghianat dan berbicara pada masa itu para ruwaibidhoh. Lalu ada yang mengatakan: siapakan ruwaibidhoh itu? Beliau menjawab: orang bodoh berbicara pada permasalahan umat.”[3]

    [Sumber: Mengapa Memilih Manhaj Salaf?, Studi Kritis Solusi Problematika Umat, Syaikh Abu Usamah Salim bin ’Ied al Hilaly, Pustaka Imam Bukhari, hal. 9 – 20, (dengan beberapa perubahan).]

    ——————————————————-

    [1] H.R. bukhori (6/615-616- fathul bari) dan muslim (1847)

    [2] Hal tersebut telah dilakukan musuh-musuh Islam dengan dua cara:
    pertama : melakukan pertukaran pelajar, dan disana terjadilah pencucian otak anak-anak kaum musliminlalu setelah itu mereka kembali kenegri-negri mereka melaksanakan apa yang telah mereka dengar dan lihat
    kedua : orientalisme, dari sinilah orang-orang jahat dari musuh-musuh Alloh Subhanahu wa Ta’ala melakukan geraka sembunyi-sembunyi dengan slogan riset dan penelitian ilmiah. Dan penelitian yang baik menetapkan bahwa mereka para orientalis tersebut bekerja untuk kepentingan intelejen Kristen Yahudi.

    [3] Shohih lighoiri, diriiwayatkan oleh ibnu Majah (4036), Ahmad (2/291), Al Hakim (4/465, 466 dan 512)



    Ajukan komentar baru
    Nama: 
    Email: 
    URL: 
    Komentar: