Mengapa harus “Manhaj Salaf” saja? Sungguh sangat banyak dalil dari Kitabulloh dan sunnah Rosululloh serta perkataan para sahabat yang menjelaskan tentang pujian terhadap orang-orang yang mengikuti jalan ulama salafush sholih(1) dan celaan terhadap orang yang tidak melakukan hal demikian. Dan ini merupakan bukti yang menguatkan kewajiban untuk mengikuti manhaj salaf dan mengakui bahwa ia merupakan jalan keselamatan dunia akhirat. Perhatikanlah firman Alloh (yang artinya), “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh dan Alloh. menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah [9]: 100) Kekhususan Manhaj Dakwah Salafiyyah Syaikh Salim bin ‘Id al-Hilali telah memaparkan dengan luas tentang kekhususan manhaj dakwah salafiyyah di dalam kitabnya Bashoir Dzawi asy-Syarof, di antaranya ialah: Alloh berfirman dalam al-Qur’an (yang artinya), Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf [12]: 108) Beliau (al-Hilali) pun menuturkan: “Manhaj salaf adalah sebuah manhaj yang lurus tidak bengkok sedikitpun, jelas, tidak tercampuri oleh hal-hal yang dapat menyembunyikan (tujuan dakwahnya), terang, dan tidak ada kesamaran yang menyelubunginya, sehingga mudah dicerna oleh akal yang sempurna.” 2. Menelusuri satu jalan yang lurus Cermatilah baik-baik firman Alloh (yang artinya), “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. al-An’am [6]: 153) (Lihat kitab Bashoir Dzawi asy-Syarof: 79-89) 1. Mengikuti dan senantiasa berada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah berdasarkan pemahaman salafush sholih dan mengikuti jejak mereka. Al-Imam al-Mubajjal Ahmad bin Hanbal memberikan pengertian tentang ittiba’ (mengikuti) para salafush sholih, yaitu: “Orang yang mengikuti apa yang datang dari Rosululloh, sahabatnya, dan orang-orang yang datang sesudah mereka.” Dan beliau (Imam Ahmad) juga mengatakan: “Pokok-pokok Sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa yang ditelusuri oleh para sahabat Rosululloh dan mengikuti mereka.” (al-Manhaj as-Salafi: 23) “Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. “(QS. an-Nisa’ [4]: 115) Di antara pokok dakwah salafiyyah yang menjadi misi utama di dalam mengembangkan dakwah Rosululloh yaitu dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah memusnahkan segala bentuk kebid’ahan dan memerangi ahlinya (pelakunya) dan para penyeru kebid’ahan. Ketahuilah wahai saudaraku—semoga Alloh merahmatimu—bid’ah adalah perkara yang haram dikerjakan, dan semua bid’ah adalah sesat. Perhatikanlah sabda Rosululloh shallahu ‘alaihi wa sallam, Kemudian setelah itu, sesungguhnya sebaik-sebaik ucapan adalah Kitabulloh (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan sejelek-jelek perkara adalah perkara baru (dalam agama) yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Muslim: 867) Sedangkan kalimat ( Kullu ) dalam bahasa Arab adalah termasuk lafazh-lafazh untuk menunjukkan makna umum (universal), maknanya: semua jenis bid’ah dalam agama adalah sesat dan inilah yang telah dipahami oleh para salafush sholih terdahulu, sebagaimana yang telah diriwayatkan dari sahabat Abdulloh bin Mas’ud beliau mengatakan: “Ikutilah dan janganlah kalian mengada-adakan perkara baru dan sungguh kalian telah dicukupi, karena setiap bid’ah adalah sesat.” Berkata Abdulloh bin Abbas : “Sesungguhnya perkara yang paling dibenci oleh Alloh adalah perbuatan bid’ah.” Berkata Sufyan ats-Tsauri : “Bid’ah itu lebih dicintai Iblis ketimbang maksiat, karena kemaksiatan ada kemungkinan untuk bertaubat, sedang pelaku bid’ah tidak mungkin untuk bertaubat.” (al-Manhaj as-Salafi: 64). Demikian itu karena pelaku maksiat mengakui berbuat dosa sedangkan pelaku bid’ah menyangka mengamalkan agama. 3. Mengutamakan dakwah tauhid Aqidah merupakan pondasi yang dibangun sejak zaman umat-umat terdahulu sampai sekarang. Perbaikan dan keselamatan umat sangat erat kaitannya dengan keselamatan aqidah mereka, sehingga ajaran yang diemban oleh setiap Rosul mereka menyeru kepada tauhid yaitu dengan beribadah semata-mata kepada Alloh dan memerangi segala bentuk kesyirikan. Alloh berfirman dalam al-Qur’an (yang artinya), Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Alloh (saja), dan jauhilah thoghut(2) itu”. (QS. an-Nahl [16]: 36) 4. Menuntut ilmu yang bermanfaat Adapun di antara pokok dakwah salafiyyah adalah menuntut ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu syar’i atau yang berkaitan dengannya, semisal belajar tauhid untuk membenahi aqidah umat dari berbagai kesyirikan, belajar ilmu hadits agar dapat membedakan antara hadits shohih dan dho’if. Karena jika melihat kondisi umat sekarang ini banyak sekali umat Islam yang berbuat ke-syirikan maupun kebid’ahan namun mereka tidak merasa kalau perbuatannya itu dosa besar, bahkan mereka beranggapan bahwa apa yang mereka kerjakan- seperti berbondong-bondong ke wali fulan, kyai, ataupun yang lainnya untuk bertawassul kepada mereka- termasuk bertaqorrub (mendekatkan diri) kepada Alloh. Dan ini merupakan musibah besar. Oleh karena itu, perlu adanya para da’i atau para penuntut ilmu untuk mendakwahkan kepada mereka supaya mereka mengetahui bahwa apa yang mereka kerjakan adalah perbuatan dosa besar. 5. at-Tashfiyah (penyucian syari’at) dan at Tarbiyah (pendidikan) Adapun yang dimaksud dengan at-Tashfiyah sebagaimana yang dituturkan oleh Syaikh al-Albani adalah penyucian syari’at Islam dari hal-hal yang masuk ke dalamnya, seperti menyucikan aqidah kaum muslimin dari paham kesyirikan dan khurofat, menyucikan Sunnah Nabawiyyah dari hadits-hadits dho’if atau maudhu, dan yang lainnya. Dan yang dimaksud at-Tarbiyah adalah mendidik kaum muslimin dengan syari’at yang sudah jernih (yang sudah di-tashfiyah/disucikan). 6. Memerangi kekelompokan (perpecahan umat) Umat Islam adalah umat yang satu yaitu berjalan di atas al-Qur’an dan sunnah sesuai pemahaman salafush sholih. Oleh karena itu, kelompok-kelompok Islam yang keluar darinya dan memiliki pemahaman khusus (baik dalam aqidah, pemikiran, amal, dan dakwah) yang membedakan dengan kelompok lain lalu membangun wala’ dan baro (loyalitas/cinta dan permusuhan) di atas dasar pemahaman kelompok tersebut, maka ia celaka sebagaimana dalam hadits tentang 72 golongan yang masuk neraka. Demikianlah wahai saudaraku sekalian, semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat bagi kita semua, dan semoga Alloh menjadikan kita semua sebagai hamba yang istiqomah dalam menjalankan syari’at-syari’at-Nya. Wallohu A’lam. Foote Note: (1.) Yakni para sahabat, tabi’in, dan tabiu’t tabi’in (2.) Thogut ialah setan dan apa saja yang disembah selain dari Alloh ■ Mukhlis Abu Dzar [Sumber: Buletin Al-Furqon (Th ke-2 Vol. 6 N0. 4)]
Ajukan komentar baru
|
![]() |
||||
| menegakkan tauhid mengikuti sunnah | ||||
Kategori artikel
- Adab (9)
- Akhlak (5)
- Aqidah (12)
- Bedah Buku (1)
- Buletin (6)
- Dauroh (6)
- DOWNLOAD: Ceramah (1)
- DOWNLOAD: Mading (5)
- DOWNLOAD: Program (2)
- DOWNLOAD: Wallpaper (3)
- Fatwa (6)
- Fiqh (10)
- Hadits (2)
- Ibadah (4)
- Info (11)
- Kajian Rutin (3)
- Kegiatan Sosial (1)
- Keluarga (10)
- Kesehatan (4)
- Kisah Kamu (3)
- Koreksi (7)
- Manhaj (18)
- Muamalah (12)
- Nasehat (23)
- Remaja (7)
- Siroh (4)
- Soal-Jawab (34)
- Tabligh Akbar (7)



