• Kategori artikel

  • Des
    17
    Terdaftar ke dalam kategori: (Koreksi, Soal-Jawab) pada 17-12-2007

    Ditanya oleh Abu Abdillah as-Sundawy
    Dijawab oleh Ustadz Zaenal Abidin, Lc.

    Pertanyaan:

    Assalaamu’alaikum Warahmatulloh Wabarakatuh

    Ustadz, bagaimana hukum meyakini intuisi (insting, perasaan)? Karena beberapa kali insting ana sesuai dengan realitas yang ada. Syukron.

    Wassalaamu’alaikum..

    Jawaban:

    Wa’alaikumussalam Warahmatulloh Wabarakatuh

    Insting itu adalah firasat, dan firasat itu adalah shahih (benar adanya), dan firasat tidak didapat kecuali oleh orang mu’min yang dipenuhi cahaya iman. Jika orang yang ahli maksiat bukan disebut firasat, tapi wangsit syaitan.

    Intinya ahlu sunnah wal jama’ah percaya adanya firasat, bahkan disebutkan oleh banyak ulama ketika membahas masalah aqidah dan juga ada kitab khusus tentang firasat-firasat para ulama ahlu sunnah, diantaranya firasat Imam Malik, firasat Abu Bakar, Firasat Umar dan firasat para shahabat, thabi’in, dan tabiut tabi’in.



    Komentar yang masuk:
    terdapat 1 komentar yang diajukan untuk artikel: "Soal-Jawab: Kedudukan Firasat Dalam Islam"
    oleh: zoel tanggal: Desember 25th, 2007 pukul: 8:40 pm #

    FIRASAT

    Sebuah dugaan dapat benar atau salah. Ia dapat terwujud dalam hati yang gelap dan terang, dalam keadaan suci atau najis. Karena itulah Allah memerintahkan untuk menjauhi sebagian besar dugaan dan memberitakan bahwa itu dosa. Sedangkan untuk firasat, Allah memuji pemiliknya dalam sebuah ayat:
    “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda — kekuasaan Kami — bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.” (Q.s. Al-Hijr: 75).
    Ibnu Abbas dan imam lain berkata, “Maksudnya adalah orang-orang berfirasat.”
    Allah swt. berfirman, “Orang yang tidak tabu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sikap-sikapnya.” (Q.s. Al-Baqarah: 273).
    Dan firman-Nya pula, “Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu dapat benar-benar mengenal tanda-tanda mereka. Dan kamu benar¬benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka.” (Q.s. Muhammad: 30).
    Firasat yang benar diberikan kepada hati yang sudah bersih, suci, bebas dari noda dan dekat kepada Allah swt. Ia melihat dengan cahaya Allah yang masuk ke dalam kalbunya. Dalam Sunan Tirmidzi dan lainnya disebutkan sebuah hadis dari Abu Sa’id yang berkata, “Rasulullah saw bersabda, `Takutlah pada firasat orang Mukmin, karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah’.”
    Firasat itu tumbuh dari kedekatannya terhadap Allah. Sebab saat hati dekat kepada Allah, terputuslah berbagai iming¬iming keburukan yang menghalangi hati mencapai kebenaran yang ditemukannya dari cermin kedekatan dari Allah swt. — sesuai dengan kedekatan hati itu sendiri. Cahaya tersebut mencerahinya selaras dengan kedekatannya. Dalam cahaya itu, ia melihat apa yang tidak dapat dilihat orang yang jauh dan terhalang. Dalam sebuah Hadis Qudsi yang diri¬wayatkan Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, `Allah berfirman, `Tidaklah hamba-Ku dapat mendekat kepada-Ku (yang lebih Kucintai) sebagai pelaksana yang Aku wajibkan kepadanya. Tiada hentinya hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan berbagai kesunnahan sampai Aku mencintainya. Bila Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengaran dimana ia mendengar dengan pendengaran itu, dan menjadi penglihatannya dimana ia melihat dengan penglihatan itu, dan menjadi tangannya dimana ia memukul dengannya dan kakinya dimana ia berjalan dengannya. Dengan-Ku ia mendengar, dengan-Ku ia melihat, dengan-Ku ia memukul dan dengan-Ku ia berjalan’.” (H.r. Bukhari dan Baihaqi).
    Dalam hadis di atas Allah swt. mengabarkan bahwa saat seorang hamba dekat kepada-Nya, ia akan mendapat manfaat dari cinta Allah kepada dirinya. Bila Allah mencintainya, berarti ia dekat dengan pendengaran, penglihatan, tangan dan kaki-Nya, sehingga ia dapat mendengar, melihat, bekerja dan berjalan dengan-Nya. Hatinya laksana cermin bersih yang dapat memantulkan bentuk suatu substansi apa adanya. Maka hampir dapat dikatakan bahwa firasatnya tidak pernah meleset, karena seorang manusia yang mendengar, melihat dengan cahaya Tuhan, ia akan mendengar dan melihat secara substansial. Ini bukan ilmu gaib, akan tetapi Tuhan Yang Maha Mengetahui kegaiban telah menanamkan kebenaran dalam hati yang dekat dengan cahaya-Nya yang tidak pernah tersentuh lukisan kebatilan, ilusi dan godaan yang dapat menghalanginya mendapatkan dimensi substansial.
    Bila cahaya sudah mendominasi hati, ia akan mengalir pada anggota tubuh, membias ke mata sehingga dengan mata hati itu dapat menyingkap penglihatannya sesuai dengan kadar cahaya tersebut.
    Di dalam shalatnya, Rasulullah saw melihat para sahabat yang berada di belakang beliau sebagaimana mereka berada di depan beliau. Beliau dapat melihat dengan jelas Baitul Maqdis, sementara beliau berada di Mekkah. Beliau melihat istana Suriah, gerbang kota Shan’a dan ibu kota Kisra Per¬sia, sementara beliau berada di Madinah menggali lubang. Beliau melihat para pejabatnya di Muktah tengah menda¬pat musibah, dapat melihat kematian Najasy di Ethiopia dan mengajak ummat Islam untuk menshalatinya.
    Umar r.a. dapat melihat gerak pasukannya yang tengah bertempur dengan musuh di Nahawand, Persia, lalu memanggilnya, “Hai pasukan, gunung, gunung!” Umar memperingatkan akan posisi gunung di belakang mereka.
    Suatu hari, Umar r.a. dihadang oleh sekelompok orang dari suku Madhaj, yang di antara mereka terdapat Asytar .an-Nakha’iy. Umar mengedarkan pandangan dan bertanya ‘kepadanya, “Siapa mereka?” Mereka menjawab, “Ia adalah Malik bin Harits.” Umar kembali berkata, “Mengapa iatidak dibunuh saja oleh Allah? Sungguh, karenanya suatu hari kaum Muslimin bakal mengalami hari yang menyedihkan!” (Yaitu dengan terjadinya pembunuhan Utsman r.a. dan Perang Jamal).
    Amr bin Ubaid berkunjung kepada Hasan, yang kemudian berkata, “Inilah pemimpin para ahli fatwa, meski belum terjadi.” Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Imam Syafi’i dan Muhammad bin Hasan duduk di Masjidil Haram, kemudian masuk seorang laki-laki, maka Muhammad bin Hasan berkata, “Aku mendapat firasat bahwa dia adalah tukang kayu!” Syafi’i berkata, “Aku mendapat firasat dia adalah pandai besi.” Maka keduanya bertanya kepada laki¬laki tersebut, “Aku adalah tukang pandai besi dan hari ini aku menjadi tukang kayu.”
    Abul Hasan al-Busyanjiy bersama Hasan al-Haddad menjengukAbu Qasim al-Munawiy. Di tengah perjalanan mereka membeli hadiah dengan pembayaran di belakang seharga 0,5 dirham. Saat keduanya masuk, ia bertanya, “Kegelapan apa ini?” Mereka keluar dan berkata, “Kami ti¬dak tahu, mungkin itu dari harga hadiah ini!” Mereka pun segera membayar hutang itu dan kembali lagi. Abu Qasim memandang keduanya dan bertanya, “Mungkinkah manusia dapat keluar dari kegelapan dengan secepat itu? Ceritakan kepadaku tentang berita kalian!” Mereka pun menceritakan kisah tersebut, lalu Abu Qasim berkata, “Benar, yang satu mendorong temannya untuk membayar, sementara laid-laid itu memberi kelonggaran kepada kalian untuk membayarnya.”
    Sebelum pertobatannya, sebenarnya terjadi suatu kisah sebab pertobatan itu antara Abu Zakariya an-Nakhsyabi dengan seorang wanita. Suatu hari, ia berdiam diri di atas kepala Abu Utsman al-Hiry’, merenung memikirkan wanita tersebut, maka Abu Utsman menengadahkan kepala kepadanya dan berkata, “Apa engkau tidak malu?”
    Diriwayatkan bahwa Syah al-Kirmany merupakan seorang yang tajam firasatnya dan tidak pernah meleset. Ia berkata, “Barangsiapa memejamkan matanya dari barang haram, menahan dirinya dari syahwat, menyemarakkan batinnya dengan senantiasa mawas diri dan lahiriahnya dengan mengikuti Sunnah Rasulullah saw dan membiasakan melahap makanan yang halal, maka firasatnya tidak akan meleset.”
    Ada seorang pemuda yang selalu menemani Imam al-Junaid yang berbicara dengan perasaan hati, dimana ia menuturkan hal itu kepada al Junaid, yang lalu bertanya, “Hai, apa yang engkau ingatkan padaku dari dirimu itu?” Ia berkata, “Aku meyakini sesuatu.” Al Junaid berkata, “Aku meyakini!” Pemuda itu bertanya, “Anda meyakini begini dan begini?” Imam al Junaid berkata, “Tidak!” Ia berkata, “Yakinkan untuk yang kedua!” Imam al Junaid berkata, “Aku akan mencoba meyakininya.” Ia bertanya, “Anda meyakini ini dan ini?” Imam Junaid menjawab, “Tidak!” Pemuda itu berkata, “Coba Anda berpikir tentang sesuatu!” Imam Junaid berkata, “Baiklah.” Pemuda itu menebak, “Anda berpikir tentang ini dan ini.” Imam al-Junaid menjawab, “Tidak!” Ia berkata, “Ini sungguh mengherankan. Anda adalah orang yang jujur dan aku lebih tahu dengan hatiku sendiri.” Imam al Junaid berkata, “Engkau benar untuk yang pertama, kedua dan ketiga, tetapi aku ingin menguji apakah hatimu berubah atau tidak!”
    Abu Said al-Kharaz berkata, “Aku memasuki Masjidil Haram, kemudian masuklah orang miskin dengan menge¬nakan dua helai kain meminta-minta. Dalam hati aku berkata, `Seperti itulah orang yang suka membebani orang lain.’ Ia melihat ke arahku dan berkata dengan mengutip sebuah ayat:
    Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatimu dan takutlah kepada-Nya’.” (Q.s. Al-Baqarah: 235).
    Abu Said berkata, `Aku pun ber-istighfar dalam hati. Sekali lagi ia memanggilku dan berkata, Dia-lah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya’.” (Al-Qur’an).
    Ibrahim al-Khawwash berkata, “Aku berada dalam masjid Jami’. Kemudian datanglah seorang pemuda berbau harum dan berwajah tampan dan penuh sopan-santun. Aku berkata kepada teman-temanku, ‘Aku berpikir ia adalah orang Yahudi.’ Namun mereka semua tidak suka. Aku pun ke¬luar, begitu juga dengan pemuda itu, tapi kemudian ia kembali lagi kepada mereka. Ia bertanya, Apa saja yang dikatakan syeikh itu tentang diriku?’ Mereka pun berusaha menyembunyikannya, namun ia terus mendesak, hingga pada akhirnya mereka terpaksa mengatakannya, ‘Ia ber¬pendapat bahwa engkau adalah orang Yahudi!’ Ia segera datang dan menjatuhkan diri di hadapanku, lalu masuk Islam. Aku bertanya, `Mengapa?’ Ia menjawab, Dalam kitab kami dituliskan, bahwa orang yang benar tidak akan meleset firasatnya. Dalam hati aku berkata, Aku akan mencoba kaum Muslimin! Aku pun segera berangan-angan tentang mereka. Bila di antara mereka terdapat orang yang benar, maka aku akan bergabung dengan mereka. Aku pun segera menyamar bersama kaum Muslimin. Saat aku melihat Anda, dan memberikan firasat tentangku, tahulah aku bahwa Anda orang yang benar’.”
    Contoh lain saat seseorang menghadap kepada Utsman bin Affan r.a. Di tengah jalan, orang itu melihat wanita dan mengkhayalkan kecantikannya. Utsman berkata, “Seseorang masuk kepada kalian sementara bekas zina tampak pada kedua bola matanya.” Orang itu bertanya, “Adakah wahyu setelah kepergian Rasulullah saw?” Utsman menjawab, “Tidak, tapi pandangan mata hati, bukti dan firasat yang benar!”
    Inilah suatu bentuk firasat, yakni cahaya yang dimasuk¬kan Allah swt. ke dalam hati sehingga sesuatu terlintas padanya kemudian mengalir ke mata hingga ia dapat melihat apa yang tidak terlihat orang lain.

    sumber:etika kesucian, ibnu qayyim

    Ajukan komentar baru
    Nama: 
    Email: 
    URL: 
    Komentar: