• Kategori artikel

  • Nop
    25
    Terdaftar ke dalam kategori: (Kisah Kamu, Keluarga, Akhlak) pada 25-11-2007

    Sejak kecil aku mengenalmu, karena kau tetangga dekatku. Namun tak pernah terbayang kau akan menjadi pendamping hidupku.

    Sebenarnya engkau tak terlalu cantik, tapi lebih sulit untuk mengatakan engkau jelek. Biasa saja. Engkau juga tak pernah memoleskan make-up di wajahmu, apalagi mengenakan perhiasan sebagaimana kebanyakan teman-temanmu.Namun kesehajaan itulah yang justru mengusik hatiku, sehingga kuputuskan untuk memilihmu menjadi pendamping hidupku. Engkau yang sederhana, pintar dan tak banyak bicara, sungguh terlihat dewasa.

    Engkau bukan anak yang berpangkat, juga bukan keturunan ningrat. Tapi aku tak peduli, yang kuutamakan bukan itu. Tetapi raga yang selalu menutup aurat dan jiwa yang selalu mengutamakan akhirat. Tekadku sudah bulat, kan kupinang dirimu dalam waktu dekat.

    Saat itu engkau baru lulus SMA. Tak kusangka engkau akan menerima dengan tangan tebuka. Bahkan, demi aku, engkau rela mengorbankan keinginanmu untuk mencicipi bangku kuliah. Semua gurumu pun menyayangkan hal itu, karena menurut mereka engkau termasuk murid yag cerdas. Tapi entah mengapa, engkau lebih memilih menjadi ibu rumah tangga saja. Sujud syukurku kepada Alloh, alhamdulillah.

    Semua serasa begitu mudah, dan kita pun menikah. Saat itu usiaku baru 25 tahun, sedangkan usiamu baru 19 tahun. Memang masih terlalu muda untuk kalangan umum, tetapi ternyata engkau berani mengambil keputusan itu. Engkau berani mengakhiri lajangmu di usia yang sedini itu. Aku pun semakin kagum padamu.

    Sejak menikah hingga kini, belum pernah engkau mengeluh tentang keadaan yang kita alami. Padahal engkau tahu sendiri, penghasilanku yang tak seberapa, kadangkala tak seimbang antara pemasukan dan kebutuhan. Sering kita harus menekan beberapa keinginan karena memang kita tidak sanggup menggapainya. Namun tak pernah kulihat kristal bening menetes dari pelupuk matamu karena itu.

    Masih teringat ketika pertama kali kita arungi bahtera ini di sebuah kontrakan mungil. Sama sekali kita tak punya apa-apa, bahkan alas tidur pun tak ada. Tapi, engkau begitu cerdik. Seongkok pakaian kita yag masih tersimpan di dalam tas usang kau keluarkan. Engkau lipat, kemudian kau tumpuk dua hingga tiga pakaian, lalu kau bariskan sedemikian rupa hingga menyerupai kasur. Kemudian engkau bentangkan kerudung lebarmu laksana seprei permadani menyelimuti kasur indah lita. Engkau tersenyum dan mempersilahkan aku tidur. Kutatap wajahmu, kubalas senyummu dengan genangan air mata haru.

    Bersamamu, bergulirnya waktu terasa begitu cepat. Hari-hari berlalu selalu terasa begitu indah. Kekurangan materi yang menemani kita setiap hari, seakan bukan merupakan beban manakala kita senantiasa ikhlas. Denganmu, begitu banyak pelajaran yang aku petik.

    Ketika setahun usia pernikahan kita, tujuh bulan sudah usia kehamilanmu. Aku begitu panik ketika engkau mengalami pendarahan, tapi engkau begitu tenang, tak gugup sedikit pun. Padahal dari keningmu yang berkerut dan nafasmu yang tertahan, aku tahu kau tengah menahan rasa sakit yag luar biasa. Segera kubawa ke bidan, dan dia bilang ini tanda-tanda mau melahirkan.

    Jam dua belas tengah malam, ketika semua insan terlelap dengan mimpi-mimpinya. Anak pertama kita lahir, prematur. Ah… betapa bahagianya aku, kucium kenigmu berulang kali. Kudengar kau berbisik, “Bi…, aku lapar”. Tersentak aku mendengarnya. Ya, seharian tadi engkau tidak memasak dan tak makan karena sudah merasakan sakit sejak kemarin. Sedangkan sore tadi aku hanya beli sebungkus nasi di warung dan sudah kulahap habis, sebab tadi ketika kutawari kau tak mau. Tak ada roti, tak ada jajanan, tak ada apa pun untuk mengganjal perutmu. Mau beli, seluruh toko dan warung sudah pada tutup. Akhirnya, kusodorkan segelas air putih yang disuguhkan bidan untukmu. Dan engkau pun tak menuntut lebih dari itu. Kembali menggenang air mata di pelupuk mataku menyaksikan kebahagian yang tersirat di wajahmu. Ya, bayi mungil kita yang nampak sehat dan berbahagia menjadikanmu lupa lapar dan dahaga.

    Tahun berganti dan engkau tak pernah berubah. Hampir sepuluh tahun kita bersama dalam kehidupan yang selalu sederhana, tapi kita tak pernah mengeluh. Engkau juga tak pernah menuntut dunia dariku, tak pernah minta ini dan itu sebagaimana para istri kebanyakan. Beli pakaian saja, mungkin tiga atau empat tahun sekali. Perhiasan? Kau tak pernah mengenalnya. Bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa berhutang saja bagimu sudah lebih dari cukup.

    Sungguh, aku beruntung sekali memilikimu. Engkaulah sebenarnya perhiasan itu. Semoga engkau selalu tegar mendampingiku, hingga kita jelang surga bersama-sama. Insya’ Alloh. (Abu Al-Ayyubi).

    *Buat istriku, aku tahu engkau punya impian. Maafkan aku yang hingga kini belum mampu mewujudkan impianmu.

    Majalah Ar-Risalah, edisi 46 Th. VI Romadhon-Syawal 1427H/Oktober 2006, hal. 41-42.

    [Sumber: Buku “Bila Pernikahan Tak Seindah Impian” oleh Muhammad Albani, penerbit Mumtaza, hal. 117-122]



    Komentar yang masuk:
    terdapat 8 komentar yang diajukan untuk artikel: "Bersama Kita Jelang Surga, Insya Alloh"
    oleh: Islam Download Video Ebook Artikel tanggal: Nopember 25th, 2007 pukul: 1:48 pm #

    Duh, jadi berkaca-kaca mata ini saat membaca kisahnya… semoga Allah memudahkan segala urusan rumah tangga beliau…

    “..Sungguh, aku beruntung sekali memilikimu. Engkaulah sebenarnya perhiasan itu. Semoga engkau selalu tegar mendampingiku, hingga kita jelang surga bersama-sama. Insya’ Alloh..”

    >> Alhamdulillah, salah satu kenikmatan besar bagi penulis, diberikan Allah istri yg shalihah dan qana’ah. Walau mungkin menurut pandangan orang awam beliau belum Allah karuniakan perhiasan dunia, tetapi justru menurut pandangan Nabi sesungguhnya telah beliau dapatkan perhiasan terbaik dari dunia ini.

    Nabi ‘Alaihish Shalaatu wa Sallam bersabda, “Dunia adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah” [HR Muslim]

    Dan pandangan siapakah yg lebih baik dari Allah dan rasulNya?

    Semoga Allah memudahkan urusan penulis, dan memberkahi dalam setiap urusannya.

    oleh: wakhid tanggal: Desember 11th, 2007 pukul: 5:56 pm #

    Assalamu’alaikum Wr.Wb………,,,,,, sungguh nikmat yang besar bagi sang penulis.
    semoga Allah selalu memberkahi setiap langkahnya,berikannya kekuatan juga kesabaran kepada beliau.
    Wassalam
    sungguh terharu saya membacanya,semoga Allah juga memberkahi kita smua.Amin.

    oleh: Abu Fauzan tanggal: Desember 15th, 2007 pukul: 8:19 am #

    Assalamu’alaikum Wr.Wb,,,…
    Sungguh kisah yang bisa membuat kita terharu ketika membacanya….Sungguh Allah menciptakan makhluk yang sempurna..Semoga ana dan akhi penulis diberikan yang terbaik oleh Allah…Amin

    oleh: FUFU tanggal: Januari 29th, 2008 pukul: 12:56 pm #

    Assallamu’allaikum…
    Jadi berkaca-kaca bacanya….sempet meneteskan air mata….
    aku juga sedang mengalami nasib yang ngga jauh berbeda…tapi kadang masih suka ngeluh, nangis, ngomel…tapi setelah baca…jadi sadar…Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita…Amien….

    oleh: esa tanggal: Februari 6th, 2008 pukul: 3:39 pm #

    subhanalloh..semoga sy bisa menjadi istri yang dibanggakan oleh suami sa kelak. Mohon doanya juga semoga sy bisa mendapatkan seorang ikhwan yang mengerti dan memiliki impian seperti antum, menggapai surga bersama..

    oleh: egaliter tanggal: Februari 24th, 2008 pukul: 7:12 pm #

    Subhanallah.. hati ini gerimis membacanya. Benar-benar sebuah kisah yang sesungguhnya tak bisa dikisahkan hanya dengan kata-kata. Dalam kisah ini terlihat jelas bahwa sesungguhnya Allah sangat mencintai antum, hingga saking cintanya, Allah mengirimkan seorang bidadari dunia yang turun dari syurga untuk antum. Saya percaya bahwa bidadari dunia memang ada, yaitu para bidadari syurga kelak.

    oleh: Mukti tanggal: Maret 5th, 2008 pukul: 1:25 am #

    ya 4JJ1 sungguh aq iri melihat limpahan rizki yg engkau berikan kepadanya…

    oleh: nur efendi tanggal: Maret 30th, 2008 pukul: 8:12 am #

    so sweet

    Ajukan komentar baru
    Nama: 
    Email: 
    URL: 
    Komentar: